Beranda > Uncategorized > Teknik Penulisan Catatan Pustaka

Teknik Penulisan Catatan Pustaka


TEKNIK PENULISAN CATATAN PUSTAKA

Oleh: Moh. Zamzuri

Pada bagian sebelumnya sudah dibahas tentang penulisan daftar pustaka. Penulisan daftar pustaka berkaitan dengan catatan pustaka. Catatan pustaka bisa langsung dicantumkan dalam teks sehingga memudahkan pembaca.

            Ada beberapa teknik penulisan catatan pustaka yang lazim digunakan (cf. Sudjiman dan Sugono 1987; Arifin 1987, Effendi, 1978).

  1. Apabila nama pengarang dicantumkan dalam teks, nama pengarang atau nama akhir pengarang langsung diikuti tanda kurung yang berisi tahun terbit, tanda titik dua, dan nomor halaman.

Contoh:

Harsono (1988: 23) mengatakan bahwa ….

  1. Apabila nama pengarang tidak dicantumkan dalam teks, nama akhir pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman dapat dicantumkan dalam kurung pada akhir pernyataan sebelum tanda baca (tanda titik). Urutan pencantuman: nama akhir pengarang, tanda koma, tahun terbit, tanda titik dua, nomor halaman.

Contoh:

“Nilai surat sebagai sarana komunikasi terletak pada mudah atau tidaknya surat itu dipahami oleh pembaca” (Warsiman, 1990:33).

  1. Apabila ada dua pengarang, kedua nama akhir pengarang dicantumkan di dalam kurung dengan urutan seperti yang terdapat pada sumber data dan dihubungkan dengan kata dan, diikuti tanda koma, tahun terbit, tanda titik dua, dan nomor halaman.

Contoh:

“Catatan merupakan tambahan karangan tentang fakta, teori, atau pernyataan yang dikemukakan dalam uraian” (Sudjiman dan Sugono, 1986:64).

  1. Apabila pengarang lebih dari dua orang, nama akhir pengarang pertama diikuti singkatan dkk.

Contoh:

Menurut Sirait dkk. (1985:25-26), jenis-jenis khusus narasi adalah: otobiografi dan biografi, anekdot dan insiden sketsa, seperti profil.

  1. Apabila ada lebih dari satu karya yang diterbitkan dalam tahun yang sama dari seorang pengarang, digunakan huruf kecil sebagai pembeda di belakang tahun terbit. Hal ini disesuaikan dengan daftar pustaka dengan aturan: urutan huruf pembeda didasarkan pada huruf awal judul buku.

Contoh:

  • Judul buku: Argumentasi dan Narasi

Penolakan merupakan sebuah proses penalaran dalam kerangka berargumentasi (Keraf, 1985a:80).

  • Judul buku: Eksposisi dan Diskripsi

Menurut Keraf (1985b:34), “klasifikasi merupakan suatu proses yang bersifat alamiah untuk menampilkan pengelompokan sesuai dengan pengalaman manusia”.

  1. Apabila beberapa pengarang diacu bersama-sama, nama-nama pengarang akhir pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman ditulis dalam satu kurung dengan pemisah tanda titik koma.

Contoh:

….dalam suatu waktu (Koentjaraningrat, 1985:12; Harsojo, 1987: 23; Ahmadi, 1986:17).

  1. Apabila pustaka acuan berjilid, nomor jilid ditulis dengan angka sesudah tahun terbit dengan dinaikkan setengah spasi.

Contoh:

Tim A3 (1987:20) berpendapat bahwa argumentasi dapat terdiri atas satu kalimat saja, atau terdiri atas beberapa kalimat.

  1. Apabila pustaka acuan tidak memiliki tahun terbit, dituliskan Tanpa Tahun pada bagian tahun.

Contoh:

…. dalam lingkup sastra (Sutopo, Tanpa Tahun: 25)

  1. Apabila pustaka acuan mengacu pada pendapat orang lain, cara penulisan sama dengan cara di atas, hanya saja petunjuk tahun dan nomor halaman buku asli tidak dituliskan.

Contoh:

Buku acuan (Tarigan, 1984:32) berbunyi: kemampuan membaca sepintas ini memang sangat bermanfaat. Oleh karena itu, sang guru harus mengajarkan ketrampilan ini kepada anak didiknya (Samsuri, 1987:296).

Apabila pendapat itu diacu, cara penulisannya: Samsuri (Tarigan, 1984:32) berpendapat bahwa kemampuan membaca sepintas sangat bermanfaat. Oleh karena itu, guru harus mengajarkan ketrampilan itu kepada anak didiknya.

Atau

“Kemampuan membaca spintas ini sangat bermanfaat. Oleh karena itu, sang guru harus mengajarkan ketrampilan ini kepada anak didiknya” (Samsuri, dalam Tarigan, 1984:32).

  • Apabila penulis menambah pendapat, mengurangi pendapat, atau mengubah pendapat pada bahan acuan, cantumkanlah cf. Atau conf (confer berarti bandingkan) sebelum nama akhir pengarang.

Contoh:

Buku acuan (Sumantri, 1987:14) berbunyi: jenis surat dapat dilihat dari segi isi, pengirim, wujud, sifat, cara menyampaikan, urgensi penyelesaian, sasaran maksud, tujuan dan sebagainya.

Menjadi:

Jenis surat dapat digolongkan berdasarkan isi dan pengirim, sifat isi, keamanan isi, wujud, maksud dan tujuan, dan urgensi penyelesainnya (cf. Sumantri, 1987:14).

Catatan pustaka bisa berwujud ulasan atau kutipan orang lain maupun diri sendiri. Kutipan yang diungkapkan dengan bahasa dan gaya pengutip disebut kutipan tak langsung, sedangkan yang sama persis dengan aslinya disebut kutipan langsung.

Beberapa teknik kutipan langsung yang lazim dipakai adalah sebagai berikut (cf. Sudjiman dan Sugono, 1986:18; Keraf, 1990:183).

  • Kutipan langsung yang kurang dari empat baris langsung ditempatkan di dalam teks di antara tanda petik dengan jarak baris sama dengan baris dalam teks.

Contoh:

Jadi, kita harus menggunakan tanda pisah. “Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya” (Depdikbud, 1984:14).

  • Kutipan langsung yang terdiri dari empat baris atau lebih dari empat baris ditempatkan tersendiri di bawah baris terakhir teks yang mendahuluinya. Kutipan ditulis tanpa tanda petik, menjorok ke dalam lima ketukan dari margin kiri (seperti alinea), dengan jarak antarbaris satu spasi.

Contoh:

Argumentasi adalah suatu retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain; agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis atau pembaca. Melalui argumentasi penulis berusaha merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu hal tertentu itu benar atau tidak.

  •  Apabila sumber acuan tertulis dalam bahasa asing, semua unsur bahasa asing diberi garis bawah pada tiap katanya atau dicetak dengan huruf miring.

 

Buku Sumber:

Warsiman. 2012. Bahasa Indonesia yang Benar: Pengantar Menuju Kemahiran Berbahasa. Surabaya: Unesa University Press.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: