Beranda > Uncategorized > TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH

TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH


Oleh: Moh. Zamzuri

 

Karya ilmiah merupakan penanda keintelektualan seseorang dalam dunia keilmuan. Seseorang dikatakan berilmu jika mampu menuangkan gagasan dan pikirannya dalam bentuk karya ilmiah. Oleh karena itu, banyak cara untuk mengaktualisasikan.

Karya ilmiah adalah karya berdasarkan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar (cf. Brotowidjoyo, 1985:8-9; Laksono, 1996:13). Oleh sebab itu, suatu karya dapat disebut ilmiah apabila karya itu memenuhi syarat (hukum) ilmu pengetahuan.

Adapun bagian-bagian karya ilmiah yang biasa kita jumpai meliputi: Judul, kata pengantar, daftar isi (untuk karya yang lebih dari sepuluh halaman), pendahuluan, isi, penutup, daftar pustaka, dan lampiran. Akan tetapi, dalam karya ilmiah tertentu, bagian-bagian itu tidak harus ada secara lengkap.

  1. Judul

Judul dalam suatu karya ilmiah hendaknya memberikan gambaran yang jelas tentang materi rancangan atau ruang lingkup masalah yang akan dibahas (Sudjiman dan Sugono, 1984:1986:4). Selain itu, judul harus ditulis dengan sesingkat mungkin tetapi tanpa mengurangi makna (esensinya), bersifat provokatif agar dapat merangsang keingintahuan pembaca, sehingga dengan sekilas saja pembaca tertarik untuk membacanya lebih lanjut, dan judul harus relevan dengan isi yang dikandungnya.

Contoh:

  1. Judul dan anak judul (kalau ada) ditulis pada baris atas degan jarak tepi kertas (pias atas) lebih kurang 2 cm.
  2. Judul dan anak judul ditulis dengan huruf kapital dan tidak diakhiri dengan tanda baca (kecuali pada karya ilmiah populer). Apabila menggunakan huruf cetak, judul dapat ditulis dengan huruf yang berukuran lebih besar jika dibandingkan dengan anak judulnya.
  3. Dalam bentuk ketik, anak judul dipisahkan dari judul dengan tanda titik dua.
  4. Nama penulis termasuk keterangan yang menyertai (misal: nomor registrasi) ditulis di tengah di antara judul dan nama jurusan, fakultas dan perguruan tinggi. Nama penulis dan keterangan yang menyertai ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf awal kata-kata yang bukan tugas. Penulisan nama penulis dan keterangan yang menyertainya tidak diakhiri degan tanda baca apapun.
  5. Pada bagian bawah dengan jarak lebih kurang sama dengan jarak judul dari nama penulis dituliskan secara berurutan ke bawah: nama program (kalau ada), nama jurusan, nama fakultas, nama perguruan tinggi, nama kota dan tahun penyusunan. Pada bagian ini huruf kapital hanya digunakan pada huruf awal kata yang bukan kata tugas. Pias bawah berjarak lebih kurang 3,5 cm.
  6. Kata pengantar

Kata pengantar fungsinya adalah sebagai pengantar suatu karya yang terdapat dibagian depan suatu keterangan. Secara lengkap, hal-hal yang terdapat pada suatu kata pengantar adalah sebagai berikut.

  1. Ucapan syukur (kalau ada);
  2. Penjelasan mengenai tugas pembuatan (kalau ada);
  3. Penjelasan mengenai garis besar isi;
  4. Ucapan terima kasih pada pihak-pihak tertentu;
  5. Sumbang saran dan harapan penulis (kalau ada);
  6. Penyebutan tempat, tanggal, bulan dan tahun penulisan, serta penyebutan nama atau identitas penulis.
  7. Daftar isi

Daftar isi fungsinya adalah untuk memudahkan pencarian hal-hal yang dikehendaki oleh pembaca. Oleh karena itu, nomor halaman dalam daftar isi harus diisi sesuai dengan nomor halaman dalam naskah. Daftar isi baru diperlukan apabila suatu karya ilmiah sudah lebih dari sepuluh halaman (Sudjiman dan Sugiono, 1986:4).

Susunan derajad penomoran dalam daftar isi dapat bervariasi. Sistem yang dipakai bisa sistem huruf adan angka atau sistem digit dengan model lurus atau lekuk. Apabila sistem yang digunakan dengan sistem digit, derajad penomoran hendaknya dibatasi sampai empat angka, setelah itu dapat meminjam model dari sistem huruf dan angka (peminjaman mulai dari a.)

  1. Sistem huruf dan Angka

Model lurus

I. BAB

  1. Subbab
  2. …….
  3. …….
  4. …….
  5. …….

1)      …….

2)      …….

a)      …….

b)      …….

(1)   …….

(2)   …….

(a)    …….

(b)   …….

 

 

Model Lekuk

I. BAB

  1. Subbab
  2. …….
  3. …….
  4. …….
  5. …….

1)      …….

2)      …….

a)      …….

b)      …….

(1)   …….

(2)   …….

(a)    …….

(b)   …….

  1. Sistem digit

Model Lurus

I. BAB

1.1  Subbab

1.1.1……

1.1.1.1……

1.2  ………

1.3  ………

1.4  ………

atau

BAB I

1.1  Subbab

1.1.1……

1.1.1.1……

1.2  ………

1.3  ………

1.4  ………

 

Model Lekuk

 

BAB I

1.1  Subbab

1.1.1……

1.1.1.1……

1.2  ………

1.3  ………

1.4  ………

atau

 

BAB I

1.1  Subbab

1.1.1……

1.1.1.1……

1.2  ………

1.3  ………

1.4  ………

 

  1. Pendahuluan

Pendahuluan fungsinya untuk mengantarkan pembaca ke dalam pembahasan suatu masalah. Seperti halnya dengan bagian lain, pendahuluan ini dapat berdiri sendiri sebagai suatu bab (misal: dalam hukum ilmiah, skripsi, dan lain-lain) dan dapat pula menyatu dengan karangan atau tulisan pada awal karangan (misal: dalam artikel, jurnal, dan lain-lain).

Satuan pendahuluan yang lengkap akan menyajikan: latar belakang dan masalah, tujuan pembahasan, ruang lingkup. Teori atau sumber data yang dipakai, sumber data , metode dan teknik, serta sistematika penyajian (cf. Sudjiman dan Sugiono, 1984:4). Tidak semua karya ilmiah harus mempunyai pendahuluan yang lengkap seperti itu.

Dalam beberapa karya ilmiah, bagian-bagian dalam pendahuluan tidak harus terpisah secara eksplisit tetapi dapat juga disatukan dalam uraian yang berjudul pendahuluan (misal: karya ilmiah populer). Akan tetapi, ada juga karya ilmiah yang harus lengkap dengan bagian-bagian pendahuluannya (misal: skripsi, tesis, dan lain-lain).

  1. Bagian Isi

Bagian isi berisi inti karya ilmiah yang menguraikan masalah pokok yang dibahas. Bagian inti ini bisa terdiri dari satu bab tetapi bisa juga lebih dari satu bab, bergantung pada keluasan masalah yang dibahas. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini (apabila lebih dari satu bab) adalah kesamaan bobot dari masing-masing bab dan keterkaitan antarbab.

Secara garis besar bagian ini mengungkapkan: uraian masalah; analisis dan interpretasi; ilustrasi atau contoh-contoh konkret; tabel; bagan; dan gambar (jika ada); serta simpulan pembahasan.

  1. Penutup

Bagian penutup berisi simpulan dan saran. Simpulan merupakan jawaban dari permasalahan yang dikemukakan dalam pendahuluan (bagian rumusan masalah). Oleh karena itu, simpulan merupakan pendapatan dari olahan bagian isi. Simpulan bukan suatu rangkuman atau ikhtisar. Simpulan pada bagian penutup merupakan hasil keseluruhan dari suatu karya ilmiah (bandingkan dengan simpulan yang ada pada bagian isi).

            Apabila penulis merasa perlu mengemukakan saran, maka saran dapat disampaikan pada bagaian ini (setelah simpulan). Saran yang disampaikan adalah saran yang berhubungan dengan pembahasan masalah dalam karya itu, baik saran untuk waktu itu atau untuk waktu yang akan datang.

  1. Daftar Pustaka

Daftar pustaka berisi daftar buku, majalah, artikel, dan lain-lain yang digunakan sebagai acuan dalam karya ilmiah. Daftar pustaka bisa dipakai sebagai salah satu indikator untuk menunjukkan seberapa jauh wawasan penulis. Selain itu, daftar pustaka juga memudahkan pembaca untuk menemukan sumber acuan yang digunakan.

            Penyusunan daftar pustaka tidak didasarkan pada nomor urut, tetapi didasarkan pada susunan abjad awal nama-nama pengarang atau nama lembaga kalau tidak ada nama pengarangnya.

            Daftar pustaka diketik dengan jarak antar baris dua spasi (atau disesuaikan), demikian juga dengan jarak antaracuan. Apabila satu sumber acuan tidak dapat dituliskan dalam satu baris, digunakan baris-baris tambahan menjorok ke dalam sepuluh ketukan dari margin kiri (Sudjiman dan Sugono, 1986:19).

            Ada beberapa cara penulisan daftar pustaka. Semuanya sebetulnya baik, asal diikuti dengan konsisten. Cara penulisan yang akan diungkap di sini adalah cara penulisan daftar pustaka yang disesuaikan dalam EYD edisi ke-2. Contoh penlulisan daftar pustaka ini terdapat dalam petunjuk penggunaan tanda titik butir ke-5 yang berbunyi:

            Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.

Misalnya:

Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Waltervreden: Balai Poestaka (Pedoman umum EYD dalam Depdikbud, 1986:1036)

            Berikut ini adalah penjelasan masing-masing bagian secara rinci.

a)      Nama Pengarang

1)      Nama pengarang ditulis lengkap, tetapi tanpa gelar kesarjanaan.

2)      Penulisan nama pengarang yang terdiri atas dua kata atau lebih dimulai dengan nama akhir, diikuti tanda koma, lalu nama pertamannya, kecuali nama Tionghoa.

Contoh:

Sutan Takdir Alisyahbana menjadi Alisyahbana, Sutan Takdir

Luk Siau Fung tetap Luk Siau Fung

3)      Apabila nama yang tercantum dalam acuan adalah nama editor, penulisan nama pengarangnya ditambah dengan tulisan (Ed.).

Contoh:

Halim, Amran (Ed.).1985.

4)      Apabila ada dua nama pengarang, nama pengarang pertama dibalik urutannya, diikuti kata dan, dilanjutkan nama pengarang kedua yang ditulis biasa (tidak dibalik urutannya).

 

Contoh:

Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. 1985.

5)      Apabila pengarang terdiri atas tiga orang atau lebih, nama pengarang pertama saja yang ditulis dengan ketentuan dibalik urutannya diikuti singkatan dkk. (dan kawan-kawan).

Contoh:

Raharjo, Masduki dkk. 1988

6)      Apabila beberapa buku yang diacu ditulis oleh seorang pengarang, nama pengarang disebutkan sekali pada buku yang diterbitkan paling awal (susunan urutannya berdasarkan tahun terbit). Untuk buku selanjutnya diberi garis sepanjang sepuluh ketukan dari margin kiri diakhiri dengan tanda titik dilanjutkan dengan tahun terbit seterusnya.

Contoh:

Keraf, Gorys. 1980.

b)     Tahun Terbit

1)      Tahun terbit diletakkan sesudah pengarang dan diakhiri dengan tanda titik.

2)      Apabila beberapa acuan ditulis oleh seorang pengarang dalam tahun yang sama. Penempatan urutan berdasarkan pada urutan abjad judul dengan ciri pembeda penambahan huruf sesudah tahun terbit

Contoh:

Lestari. 1985a. Fonologi

———-.1985b. Pengantar Awal Sosiolinguistik.

3)      Apabila acuan yang digunakan tidak menyebutkan tahun terbit, disebutkan tanpa tahun dalam kolom tahun terbit.

Contoh:

Faisal, Dahrin. Tanpa Tahun.

c)      Judul Buku

1)      Judul buku dituliskan sesudah tahun terbit dan diakhiri dengan tanda titik.

2)      Judul buku dituliskan dengan huruf miring atau dengan garis bawah pada tiap-tiap katanya. Judul dengan anak judul dipisahkan dengan tanda titik dua.

Contoh:

Zoetmulder, P.J. 1985. Kalangwang: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang.

3)      Artikel, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi ditulis di antara tanda petik ganda.

Contoh:

Warsiman. 1985. “Pisuhan sebagai Cermin Nilai Rasa dan Sikap Jiwa”.

4)      Keterangan yang menyertai judul (misal: jilid, edisi, dan sebagainya) ditempatkan sesudah judul dan diakhiri dengan tanda titik.

Contoh:

Halimah, Nur. 1988. Kamus Linguistik. Edisi Kedua.

5)      Acuan yang berbahasa asing, unsur-unsur keterangannya diindonesiakan.

Contoh:

Second Edition menjadi Edisi kedua.

d)     Tempat Terbit dan Nama Penerbit

1)      Tempat terbit ditempatkan setelah judul buku dan keterangan yang menyertainya, diikuti tanda titik dua, dilanjutkan dengan penulisan nama penerbit, dan diakhiri dengan tanda titik.

Contoh:

Mufaizah. 1998. Analisis Bahasa. Cetakan keenam. Jakarta: Erlangga.

2)      Apabila lembaga berkedudukan sebagai pengarang dan penerbit, nama lembaga dicantumkan dalam kolom pengarang dan tidak perlu disebut lagi dalam kolom nama penerbit.

Contoh:

BP-7 Propinsi Tingkat I Jawa Timur. 1985. Buku Serapan Bahasa Penataran P4, UUD 1945, GBHN. Surabaya.

e)      Dua Judul, Satu Pengarang

Apabila ada dua judul, tetapi hanya ada satu pengarang (misal: artikel di surat kabar atau majalah), penulisan daftar pustaka tetap sama urutannya, tetapi cara penulisan judulnya yang lain. Judul utama (judul artikel) ditulis dengan tanda petik ganda, diikuti tanda titik, dilanjutkan dengan pencantuman kata Dalam yang diikuti dengan judul kedua (judul surat kabar atau majalah) yang dicetak miring atau diberi garis bawah tiap katanya. Keterangan yang menyertai surat kabar (tanggal, bulan, dan tahun terbitnya) ditempatkan setelah nama surat kabar dengan pembatas koma dan diakhiri dengan tanda titik.

Majalah biasanya lebih rumit karena disertai dengan nomor majalah, bulan terbit, dan tahun terbitan. Keterangan yang menyertai majalah ini dapat ditempatkan setelah nama majalah dengan urutan: nama majalah dengan huruf miring atau garis bawah, tanda koma, nomor majalah (dengan angka), tandan kurung buka, bulan terbit dan tahun terbit, tanda koma, tahun terbitan ke berapa (dengan angka Romawi), tanda kurung tutup, dan diakhiri dengan tanda titik. Apabila tahun pembuatan artikel dicantumkan, tahun pembuatan artikel dianggap sama dengan tahun terbitnya surat kabar atau majalah.

Contoh:

Norman, S. 1990. “Budaya Asing atau Lokal”. Dalam Jawa Pos, 31 Agustus 1990. Surabaya.

Husin, R. 1990. “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemantapan Warga Transmigrasi Asal Jawa Timur di Sulawesi Selatan”. Dalam Media Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan, 50 (September 1990, XIII). Surabaya: Universitas Negeri Malang.

f)       Dua Judul, Dua Pengarang

Apabila ada dua judul dan dua pengarang (misal: antologi), urutan penulisan pada dasarnya sama. Secara rinci urutan itu adalah: nama pengarang utama (dengan sistem pembalikan urutan), tanda titik, tahun pembuatan karangan, tandan titik, judul karangan dengan tanda petik ganda tanda titik, nama editor yand didahului dengan kata Dalam diikuti tanda kurung yang menunjukkan editor (Ed.) dan diakhiri dengan tanda titik (nama editor yang terletak pada urutan kedua ini tidak dibalik), tahun terbit buku (antologi), tanda titik, judul buku (antologi) dengan huruf miring atau dengan garis bawah tiap katanya, tanda titik, tempat terbit, tanda titik dua, nama penerbit (kalau ada), lalu diakhiri dengan tanda titik.

Apabila karangan tidak mencantumkan tahun pembuatan, tahun pembuatan karangan dianggap sama dengan tahun terbit buku.

Contoh:

Moeliono, Anton M. 1975. “Ciri-ciri Bahasa Indonesia yang Baku”. Dalam Amran Halim (Ed.). 1985. Politik Bahasa Nasional. Jilid 2. Jakarta: Balai Pustaka.

 

g)      Sumber dari Internet

Sumber dari internet penulisannya sama seperti sumber-sumber yang lain. Sumber dari internet yang boleh dijadikan rujukan haruslah jelas. Artinya ditulis oleh seseorang, sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Adapun penulisan daftar pustaka sumber dari internet yang dianggap telah baku adalah sebagai berikut.

Warsiman. 2008. “Teknik Penulisan Gelar Akademik”. [online]. Tersedia. (alamat web).

 

Buku Sumber:

Warsiman. 2012. Bahasa Indonesia yang Benar: Pengantar Menuju Kemahiran Berbahasa. Surabaya: Unesa University Press.

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: