Beranda > Uncategorized > Membudayakan Menulis

Membudayakan Menulis


Pemikiran Hipotetik

Ada sepuluh pemikiran hipotetik yang esensial mendasari orang menjadi penulis atau gemar menulis.

  1. Rasa suka yang kontinyu atas kegiatan menulis merupakan prasyarat keberhasilan menjadi penulis.
  2. Hanya penulis  yang suka menulis yang akan melahirkan tulisan secara produktif dan bernilai.
  3. Hanya penulis yang gemar dan banyak  menulis secara mandiri akan mampu mengembangkan irama dan gaya pribadi dalam tulisannya.
  4. Hanya penulis yang mandiri yang akan belajar cara menulis dengan kejelasan dan ketajaman fokus.
  5. Penulis harus sering dan bebas menulis dan membaca agar tumbuh secara prigel menggunakan struktur kalimat yang kompleks dan  benar secara tata bahasa.
  6. Penulis yang menikmati tulis-menulis jarang menunda menyerahkan makalah seminar, artikel ilmiah, atau laporan kerja  ilmiah.
  7. Penulis yang suka menulis dan sering menulis untuk iseng, lebih memahami hal-hal yang dibacanya.
  8. Penulis yang gemar menulis dan membaca, umumnya unggul pada hampir semua bidang kegiatan.

 Membudayakan Menulis

  • Rasa ingin  tahu
  • Rasa ingin menulis apa yang diketahui
  • Berbuat menulis
  • Menjadikan aktivitas menulis menjadi bagian dari aktivitas akademik
  • Menjadikan menulis sebagai kebutuhan hidup
  • Menjadikan menulis sebagai hobi
  • Menjadikan menulis sebagai sumber penghidupan

 Fokus Tulisan

  • Apa yang diketahui?
  • Apa yang ditemukan dari penelitian?
  • Apa yang dialami?
  • Apa yang dibaca?
  • Apa yang guru teliti dan diabdikan?
  • Apa yang bermaslahat?
  • Apa yang aktual?
  • Apa yang didengar?
  • Apa yang dapat dinilai?
  • Apa yang dapat diprediksikan?
  • Dan sebagainya?

Jenis-jenis Karangan

Karangan deskriptif

Deskripsi merupakan padanan kata description dalam bahasa Inggris. Kata kerjanya adalah to describe, sedangkan kata sifatnya adalah descriptive. Karangan deskriptif (descrtiptive essay) biasanya dimaksudkan untuk memunculkan atau menciptakan kesan (image) tentang seseorang, objek, tempat, atau benda tertentu. Karena itu, karangan deskriptif memuat substansi rincian nyata untuk membawa pembaca pada visualisasi atas individu, objek, tempat, atau subjek tertentu. Misalnya, deskripsi mengenai  satuan pendidikan tertentu, seperti letak, jumlah tenaga, fasilitas, keunggulan, kondisi alumni, sistem pembelajaran, instrumen teknologi yang digunakan, dan lain-lain.

 

Contoh deskripsi berupa fakta:

 

Hampir semua pelosok Mentawai indah. Di empat kecamatan masih terdapat hutan yang masih perawan. Hutan ini menyimpan ratusan jenis flora dan fauna. Hutan Mentawai juga menyimpan anggrek aneka jenis dan fauna yang hanya terdapat di Mentawai. Siamang kerdil, lutung Mentawai dan beruk Simakobu adalah contoh primata yang menarik untuk bahan penelitian dan objek wisata.

 

Contoh deskripsi berupa fiksi:

Salju tipis melapis rumput, putih berkilau diseling warna jingga; bayang matahari senja yang memantul. Angin awal musim dingin bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim gugur dan menderaikan bulu-bulu burung berwarna kuning kecoklatan yang sedang meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting yang lain.

Sumber: Wikipedia Indonesia

Karangan ekspositori

Karangan ekspositori dimaksudkan untuk menjelaskan tentang subjek tertentu. Keterangan itu bisa bersifat kronologis, membandingkan, atau sebab akibat. Karangan yang bersifat proses menyajikan urutan peristiwa secara kronologis, berdasarkan waktu kejadiannya.

 

Contoh karangan eksposisi pada umumnya:

 

Pada dasarnya pekerjaan akuntan mencakup dua bidang pokok, yaitu akuntansi dan auditing. Dalam bidang akuntasi, pekerjan akuntan berupa pengolahan data untuk menghasilkan informasi keuangan, juga perencanaan  sistem informasi  akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan informasi keuangan. Dalam bidang auditing pekerjaan akuntan berupa pemeriksaan laporan keuangan secara objektif untuk menilai kewajaran informasi yang tercantum dalam laporan tersebut.

Sumber: Wikipedia Indonesia

Karangan naratif

Karangan naratif menggambarkan suatu ide dengan cara bertutur tertentu. Peristiwa yang diceritakan biasanya mengikuti alur  sesuai urutan waktu. Karangan ini sedemikian rupa berusaha mengubah perilaku atau memotivasi pembaca untuk ikut serta dalam suatu aksi atau tindakan. Karangan naratif dapat menyatakan suatu emosi atau tampak emosional dengan rincian pendukung biasanya disajikan berdasarkan urutan kepentingannya.

 

Contoh narasi berisi fakta:

 

Ir. Soekarno

 

Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama adalah seorang nasionalis. Ia memimpin  PNI pada tahun 1928. Soekarno menghabiskan waktunya di penjara dan di tempat pengasingan karena keberaniannya menentang penjajah. Soekarno mengucapkan pidato tentang dasar-dasar Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Soekarno bersama Mohammad Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Bengkulu pada tahun 1948. Soekarno dikembalikan ke Yogya dan dipulihkan kedudukannya sebagai Presiden RI pada tahun 1949.

Jiwa kepemimpinan dan perjuangannya tidak pernah pupus. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin negara lainnya menjadi juru bicara bagi negara-negara nonblok pada Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Hampir seluruh perjalanan hidupnya dihabiskan untuk berbakti dan berjuang.

Sumber: Wikipedia Indonesi

Petunjuk umum Penulisan Naskah untuk Jurnal

  1. Naskah yang dikirim harus menyajikan hasil penelitian atau hasil observasi orisinal yang relevan dengan sifat khas jurnal. Naskah dapat pula berupa gagasan-gagasan orisinal yang memiliki bobot akademik tertentu, meskipun biasanya hal ini tidak menjadi prioritas untuk dimuat pada jurnal ilmiah.
  2. Naskah yang dikirim harus asli, dalam arti baik kegiatan penelitian maupun penulisan naskahnya harus dilakukan sendiri oleh guru  atau tim guru.
  3. Naskah yang dikirim belum pernah diterbitkan pada jurnal atau media lain dan tidak akan dikirimkan ke jurnal atau media lain sebelum dilakukan penilaian terhadap kelayakan atau ketidaklayakan terbit dan pengirim naskah menerima laporannya, dengan cara penyajian yang sama atau berbeda. Kejujuran penulis untuk hal ini  bersifat tidak dapat ditawar, namun jika terjadi pengiriman atau pemuatan naskah di jurnal secara ganda, sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulisnya.
  4. Isi naskah sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan naskah yang dimuat tidak selau mencerminkan pendapat penyunting atau redaktur jurnal. Dewan Redaksi atau Dewan Penyunting berhak mengedit atau menyunting naskah artikel yang dikirim, dengan tidak mengurangi substansi isinya. Manakalah dengan editing atau suntingan itu substansi tulisan  tereduksi, penulis berhak menyampaikan keluhan.

Format dan Pembagian Naskah

  1. Naskah di ketik dengan spasi ganda  pada kertas kuarto atau A4 70-80 gram (kecuali abstrak atau sitasi lebih dari lima baris dengan spasi tunggal), bisa menggunakan mesin ketik, mesin IBM, atau komputer dengan ukuran huruf 12 pica. Huruf yang dipakai biasanya Time New Roman, kecuali ada ketentuan lain.
  2. Naskah disusun secara sistematis dengan urutan-urutan sebagai berikut:
    1. sirahan (running head);
    2. judul;
    3. abstrak;
    4. teks atau batang tubuh;
    5. ucapan terima kasih;
    6. daftar pustaka;
    7. tabel/gambar (kalau ada);
    8. catatan kaki (kalau ada);
    9. gambar asli atau foto (kalau ada); dan
    10. appendik (kalau ada).
    11. Setiap halaman diberi nomor secara berurutan dengan menggunakan angka Arab

Petunjuk Khusus

  1. 1.      Halaman judul dan kelengkapannya
    1. Pada sudut kiri atas dicantumkan nama jurnal yang dituju.
    2. Pada sudut kanan atas ditulis nama penulis atau salah satu di antaranya (jika ditulis secara kelompok) disertai alamat secara lengkap, bisa alamat kantor atau alamat rumah.
    3. Judul ditulis secara singkat, tepat, dan informatif. Jika dipandang perlu dapat dibuat judul utama dan judul pelengkap
    4. Di bawah judul naskah dicantumkan nama penulis atau nama-nama tim penulis dan di bawah nama penulis dicantumkan nama lembaga tempat penelitian dilakukan, termasuk nama laboraturium atau satuan pendidikan, lengkap dengan alamatnya.
    5. Jika guru lain sebagai anggota peneliti  berasal dari instansi yang berbeda, beri tanda berupa angka superskrip dan catatan kaki (footnote) mengenai institusi penulis. Catatan kaki (footnote) dimuat pada halaman catatan kaki yang disediakan tersendiri.
    6. 2.      Abstrak
      1. Abstrak ditulis dengan satu atau dua bahasa, bahasa Nasional dan bahasa Internasional atau sebaliknya. Jika naskah ditulis dalam bahasa Inggris, abstraknya ditulis dalam bahasa Indonesia, atau bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jika naskah ditulis dengan bahasa Indonesia, abstraknya ditulis dalam bahasa Inggris, atau bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
      2. Panjang abstrak relatif, akan tetapi dianjurkan tidak lebih dari 250 kata.
      3. Abstrak memuat informasi penting, terutama tujuan penelitian, metodologi dan kesimpulan.
      4. Setelah abstrak, cantumkan kata-kata kunci (key words). Kata-kata kunci dianjurkan tidak lebih dari lima kata dan ditulis dalam satu bahasa, meski tetap dimungkinkan lebih dari satu.
      5. 3.      Teks atau tubuh tulisan, memuat:
        1. Pendahuluan yang memuat perasan mengenai antara lain rasional, fokus masalah, tujuan penelitian, konsep teoritis.
        2. Metode penelitian yang memuat antara lain asumsi, hipotesis, pendekatan penelitian, cara pengumpulan data, dan analisis data. Jika penelitian itu dilakukan dengan menggunakan beberapa kali kegiatan eksperimen atau PTK (misalnya Eksperimen 1, 2, 3 atau Siklus 1, 2, 3, dan seterusnya) harap dijelaskan secara rinci masing-masing prosesnya.
        3. Hasil penelitian dan diskusi atau pembahasan.
        4. d.      Kesimpulan, implikasi, dan rekomendasi.
        5. 4.      Penamaan dan satuan
          1. Penamaan untuk pelbagai jenis tetumbuhan, hewan, atau mikroorganisme yang dipakai adalah nama-nama ilmiah atau nama lain yang telah disepakati atau populer secara nasional.
          2. Satuan yang digunakan adalah satuan internasional, seperti:

1)         ukuran panjang, yaitu milimeter, sentimeter, meter, kilometer, inch, feet, yard, mile, dan lain-lain;

2)         satuan area, yaitu square centimeter, square meter, hectare, square inch, square foot, square yard, acre, square mile, dan lain-lain;

3)         satuan volume, yaitu mililiter, liter, cubic meter, cubic inch, cubic foot, cubic yard, dan lain-lain;

4)         satuan massa, yaitu miligram, kilogram, metric ton, ounce, pound, ton, dan lain-lain;

5)         satuan ukuran benda cair: mililiter, liter, kubic meter, pint, gallon, dan lain-lain.

  1. Bahasa satuan yang digunakan dapat ditulis dalam bahasa Nasional (bahasa Indonesia, misalnya) seperti meter kubik, hektar, ons, dan lain-lain.
  2. 5.      Penggunaan pustaka
    1. Bahan sajian bersumber dari artikel primer atau hasil penelitian yang mutahir, kecuali untuk hal-hal khusus yang hanya ada pada artikel-artikel klasik.
    2. Bahan acuan dapat berupa naskah yang masih dalam proses penerbitan, namun harus diberi penjelasan khusus, seperti: dalam proses penerbitan atau inpress
    3. Naskah yang belum dikirim ke penerbitan atau sudah dikirim namun dalam proses penerbitan dapat dipakai sebagai acuan, akan harus diberi penjelasan khusus, seperti: pers.comm.
    4. Naskah komunikasi pribadi dapat dijadikan acuan penulisan.
    5. Pengutipan sumber pustaka dilakukan dengan cara dan disajikan dalam pelbagai bentuk seperti berikut:

1)      ……….akhir kutipan (Ali dan Tono, 1988)

      atau

       Ali dan Tono (1988) mengemukakan……Þ awal kutipan;

2)      ………..akhir kutipan (Bana, 1991); (Tuli & Romonodisaputro (1990) menulis….. Þ awal kutipan;

3)      ……….akhir kutipan (Bolan et al.,1991)

       atau

      Bolan et.al (1999) menulis……Þ awal kutipan;

4)      ………..akhir kutipan (Lan, inpress) Þ khusus untuk sumber pustaka yang sedang dalam proses penerbitan;

5)       ……….akhir kutipan (J.Siregar, pers.comm.)  Þ khusus untuk naskah yang belum diterbitkan atau belum dikirim ke penerbit.

  1. Pengutipan sumber pustaka dengan sistem catatan kaki tidak diperkenankan, demikian juga catatan kaki yang berfungsi sebagai penjelas.
  2. 6.      Penulisan daftar pustaka
    1. Penulisan daftar pustaka dilakukan dengan menerapkan sistem apa saja, asal dilakukan secara konsisten.

Contoh:

American College Testing Program. (1983). ACT User Handbook, Iowa City, IA: Author. Þ tanpa pengarang

Baddeley, A. D. (1986). Working Memory, Oxford, United Kingdom: Clarendon Press.

Campbell, D. T., & Fiske, D. W. (2001), Construct Validation by the Multitrait-multimethod Matrix. Psychological Bulletin, 56, 81 – 105. Þ 56 adalah nomor edisi dan 81 – 105 adalah halaman.

Daneman, M. & Tardiff, T. (1987). Working Memory and Reading Skill Reexamined. In M. Colthreart (Ed.), Attention and Performance (pp. 491-508). Hillsdale, New Jersey: Erlbaum.   Þ untuk tulisan/artikel yang dimuat pada  buku yang ada editornya.

Sudarwan Danim (1988), Model Pengelolaan Terpadu Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan. Disertasi. Bandung: UPI

  1. Semua nama penulis harus disertakan dan ditulis secara lengkap, kecuali tercantum nama editornya.
  2. Pustaka yang bersumber dari komunikasi personal tidak dicantumkan, demikian juga untuk sumber pustaka yang masih dalam proses penebitan.
  3. Penulisan sumber pustaka, sistem apa pun yang dipakai, umumnya mencakup nama pengarang, judul buku, penebit, tahun terbit, kota tempat penerbit, volume, dan lain-lain. Untuk itu penulis harus mengetahui konvensi jurnal yang akan dikirimi naskah karangan.

Evaluasi artikel

Format atau kriteria evaluasi artikel dimaksud seperti berikut ini.

No. Aspek penilaian Indikator
1 2 3 4 5
1 Masalah dirumuskan secara jelas          
2 Hipotesis dirumuskan secara jelas          
3 Signifikansi masalah          
4 Asumsi dirumuskan secara jelas          
5 Batasan masalah studi dirumuskan secara jelas          
6 Definisi istilah dirumuskan secara jelas          
7 Hubungan antara masalah dengan riset sebelumnya adalah jelas          
8 Desain penelitian dirumuskan secara baik          
9 Desain penelitian adalah tepat          
10 Populasi dan sampel adalah jelas          
11 Kejelasan metode sampling, kalau ada          
12 Metode pengumpulan data tepat dilihat dari keperluan pemecahan masalah          
13 Validitas instrumen adalah jelas dan tepat          
14 Reliabilitas instrumen adalah jelas dan tepat          
15 Dilakukan uji asumsi statistik sebelum analisis data dilakukan          
16 Ketepatan metode analisis data          
17 Kesimpulan sesuai dengan temuan-temuan          
18 Kesimpulan dirumuskan secara jelas          
19 Kesimpulan dapat dijeneralisasikan kepada populasi          
20 Laporan ditulis secara jelas          
21 Organisasi laporan jelas          
22 Tidak ada bias di dalam laporan          
23 Secara keseluruhan memenuhi kriteria sikap ilmiah penulisnya          

Keterangan:

1    = Sangat buruk

2    =  Buruk

3    = Moderat

4    =  Baik

5    = Istimewa

Kategori:Uncategorized
  1. 11 Februari 2013 pukul 5:07 pm

    I wish to point out my respect for your kind-heartedness for individuals who actually need
    help with your subject. Your personal dedication to
    getting the message all-around became quite productive
    and has made those just like me to get to their pursuits.
    Your own valuable guideline means a lot a person like me
    and extremely more to my office colleagues. Best wishes; from all of us.

    Suka

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: