Beranda > OPINI > Jurnal Reflektif sebagai Modal Penulisan PTK

Jurnal Reflektif sebagai Modal Penulisan PTK


Penulis: Moh. Zamzuri

Dalam sejarah ada istilah semakin lama umur sejarah semakin tinggi nilainya ini kata saya lho. Hari ini saya tak ingin membicarakan sejarah, apalagi berkaitan dengan ilmu sejarah. Kita bicara yang ringan-ringan saja, supaya mata kita tetap terang benderang seperti lampu stadion Letjen Sudirman Bojonegoro. Kalau ringan bicaranya banyak yang gayeng, itu sih kalau di warung kopinya Bu Komariyah sebelah barat terminal Temayang, he..he..bukan bermaksud mempromosikan tapi kenyataannya memang demikian. Entah apa yang menjadi magnet daya pikat orang-orang desa dari yang tua sampai yang muda betah berlama-lama padahal belinya secangkir. Warung kopi itu memang istimewa, tidak ada gurunya tapi banyak tema yang dibicarakan.

Ini juga tak ada kaitannya dengan warung kopi, tetapi kita bisa belajar dari apa yang membuat orang betah diwarung kopi, ya itu tadi bicaranya ringan-ringan bahkan sambil guyon, tapi banyak lho deal-deal besar berasalal dari warung kopi yang kecil.

Sudah ya kita membicarakan warung kopinya. Jika bapak/ibu seorang pendidik setiap hari mengajar siswa lengkap dengan administrasi yang metinting silabus, promes, jurnal, dan perangkat pembelajaran lainnya. Ketika Bapak/Ibu ditanya sudah bisa membuat PTK? pastinya sedikit sekali yang berani menjawab sudah. Gak bisa, gak teko mikire..biarkan yang muda-muda itu saja kata-kata ini juga tak sedikit yang muncul dari percakapan Bapak/Ibu yang notabene pendidik.

Kalau ditanya PTK pembicaraannya menjadi tak semenarik lagi seperti di warung kopi. Sebenarnya Bapak/Ibu guru telah memiliki modal besar untuk membuat PTK, tetapi karena perhatian Bapak/Ibu pada struktur tata cara dan bagaimana menyusunnya PTK, modal besar yang sudah Bapak/Ibu guru miliki menjadi tak berarti lagi.

Modal besar yang Bapak/Ibu guru miliki seperti pembicaraan di warung kopi yang ringan tadi. Tetapi Bapak/Ibu belum memberdayakannya. Modal besar yang saya maksud adalah catatan-catatan selama Bapak/Ibu guru melaksanakan pembelajaran. Bapak/Ibu bisa memodifikasi jurnal yang telah Bapak/Ibu miliki selama ini menjadi lebih reflektif. Sebagai guru yang inovatif sudah semestinya Bapak/Ibu berani berinovasi dengan hal-hal yang tidak seperti yang dulu-dulu. Bukan yang dulu tak memiliki arti, tetapi lebih pada manfaat dalam pembuatan jurnal yang reflektif.

Jurnal Refkektif dapat disusun dengan berbagai model misalnya tabel atau lajur ke bawah. Bagaimana Bapak/Ibu teknik pembuatan jurnal reflektif, misalnya:

Hari, Tanggal                  : Tuliskan hari dan tanggal pelaksanaan

Kelas/Semester             : Tuliskan kelas dan semester

Mata Pelajaran              : Tuliskan mata pelajaran yang diajarkan

Kompetensi Dasar       : Tulis kompetensi dasar ingin dicapai

Indikator                         : Tuliskan indikator pembelajaran

Materi Ajar                    : Tuliskan secara singkat materi yang diajarkan

Kegiatan Pembelajaran : Narasikan pengalaman belajar termasuk metod, strategi, model-model yang dilaksanakan.

Refleksi/Tindak Lanjut    : Tuliskan kekurangan dan kelebihan serta hasil yang dicapai dengan metode, strategi, model untuk diberikan tindak lanjut perbaikan atau pengayaan program yang akan datang.

Harapannya dengan menulis hal-hal yang ringan suatu saat akan memiliki nilai yang berharga seperti sejarah hee…hee.. itulah modal dasar Bapak/Ibu untuk menulis Penelitian Tindakan Kelas.

Mudah bukan?….horeeeeeeeeeeeeeeeeee…….plok..plok…plok…

Kategori:OPINI Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: