Beranda > Jendela Ilmu > Memahami Ketrampilan Proses Dalam Pembelajaran IPA

Memahami Ketrampilan Proses Dalam Pembelajaran IPA


Banyak ahli pendidikan mengemukakan pengertian tentang proses dan ketrampilan proses IPA. Robin Millar (Popi Kamalia Devi, 2010) menyatakan bahwa istilah proses sains (Scinces Procesess) sangat banyak digunakan di Inggris, istilah ini mengacu kepada pendekatan proses (Process Approach) yang digunakan oleh guru dalam dalam membahas materi (content) yang mengacu kepada prosesnya. Menurut Semiawan, dkk. (Nasution, 2007) menyatakan bahwa ketrampilan proses ialah ketrampilan fisik dan ketrampilan mental terkait dengan ketrampilan-ketrampilan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah sehingga para ilmuwan dapat menemukan sesuatu yang baru.

American Assosiation for the Advancement of Science (Popi Kamalia Devi, 2010) mengklasifikasikan ketrampilan proses menjadi ketrampilan proses dasar dan ketrampilan proses terpadu. Ketrampilan proses dasar meliputi ; pengamatan, pengukuran, menyimpulkan, meramalkan, menggolongkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan ketrampilan proses terpadu meliputi pengontrolan variable, intepretasi data, perumusan hipotesa, pendefinisian variable secara operasional, dan merancang eksperimen. Popi Kamalia Devi menjelaskan bahwa ketrampilan proses dasar merupakan fondasi untuk melatih ketrampilan terpadu yang lebih kompleks.

Untuk lebih jelasnya berikut ini ketrampilan proses dasar dan ketrampilan proses terpadu yang dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA di SD, antara lain:

Pengamatan

Ketrampilan pengamatan dapat dilakukan dengan panca indera. Pengamatan yang dilakukan dengan panca indera disebut pengamatan kualitatif. Sedangkan pengamatan yang dilakukan menggunakan alat ukur disebut pengamatan kuantitatif. Pengamatan dapat dilakukan pada objek yang sudah tersedia dan pengamatan pada suatu gejala atau perubahan.

Contoh :

Sekelompok siswa diminta mengamati beberapa tepung yang berbeda warna, rasa, warna, ukuran serbuk, dan baunya.

Gunakan panca inderamu untuk mengetahui jenis-jenis tepung yang tersedia di piring.

Tepung

Warna

Rasa

Warna

Bau

A

B

C

D

Pengukuran

Ketrampilan mengukur dapat dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan satuan-satuan yang cocok dari ukuran panjang, luas, isi, berat, dan sebagainya. Menurut Carin (Nasution, 2007) mengukur adalah membuat observasi kuantitatif dengan membandingkan standar yang konvensional dan non konvensional.

Contoh :

Siswa melakukan pengukuran suhu menggunakan thermometer, menimbang dengan berbagai neraca, mengukur volum dengan gelas ukur, dan mengukur panjang dengan menggunakan penggaris.

Menyimpulkan

Menyimpulkan di dalam ketrampilan proses disebut inferensi. Inferensi adalah sebuah pernyataan yang dibuat berdasarkan fakta hasil pengamatan. Hasil inferensi dikemukakan sebagai pendapat seseorang terhadap sesuatu yang diamatinya. Pola pembelajaran inferensi sebaiknya menggunakan pembelajaran kontruktivisme, sehingga siswa belajar merumuskan sendiri inferensinya.

Menggolongkan

Menggolongkan (mengklasifikasi) adalah proses yang digunakan ilmuwan untuk mengadakan penyusunan dan pengelompokan atas objek-objek atau kejadian-kejadian.

Ketrampilan mengelompokkan dapat dikuasai siswa apabila telah dapat melakukan ketrampilan-ketrampilan berikut ini: 1) mengidentifikasi dan memberi nama sifat-sifat yang diamati dari sekelompok objek yang digunakan dasar untuk mengklasifikasi. 2) menyusun klasifikasi dalam tingkatan-tingkatan tertentu sesuai dengan sifat-sifat objek.

Menggelongkan ini berguna bagi siswa untuk melatih menunjukkan persamaan, perbedaan dan hubungan timbal balik.

Contoh :

Siswa menggolongkan berbagai hewan yang memiliki cirri-ciri khusus, sifat logam berdasarkan kemagnetannya.

Mengkomunikasikan

Mongkomunikasikan dalam ketrampilan proses berarti menyampaikan pendapat hasil ketrampilan proses lainnya baik secara lisan maupun tulis. Dalam bentuk tulisan dapat berupa rangkuman, grafik, tabel, diagram, gambar, poster dan lainnya. Ketrampilan berkomunikasi ini hendaknya dilatihkan kepada siswa agar siswa terbiasa mengemukakan pendapat dan berani tampil di depan umum.

Karakteristik ketrampilan proses mengkomunikasikan, antara lain: 1) mengutarakan suatu gagasan 2) menjelaskan penggunaan data hasil penginderaan/memeriksa secara akurat suatu objek atau kejadian 3) mengubah data dalam bentuk tabel ke bentuk lainya misalnya grafik atau diagram secara akurat.

Prediksi

Prediksi adalah ramalan tentang kejadian yang dapat diamati diwaktu yang akan datang. Prediksi di dasarkan pada observasi yang cermat dan inferensi tentang hubungan antara beberapa kejadian yang telah diobservasi.

Perbedaan inferensi dan prediksi yaitu: inferensi didukung oleh fakta hasil observasi, sedangkan prediksi dilakukan dengan meramalkan apa yang akan terjadi kemudian berdasarkan data pada saat pengamatan dilakukan.

Contoh :

Apa yang akan terjadi pada lampu senter jika ada pemasangan batereinya yang terbalik?

Mengidentifikasi Variabel

Variabel adalah satuan besaran kualitatif atau kuantitatif yang dapat bervariasi atau berubah pada situasi tertentu. Besaran kualitatif adalah besaran yang tidak dinyatakan dalam suatu pengukuran baku tertentu. Besaran kuantiatif adalah besaran yang dinyatakan dalam suatu pengukuran baku tertentu.

Dalam suatu eksperimen terdapat tiga macam variable, yaitu: variable manipulasi, variable respon dan variable control. Namun untuk tingkatan SD ketrampilan ini belum dilatihkan.

Intepretasi Data

Ketrampilan intepretasi data biasanya diawali dengan pengumpulan data, analisis data, dan mendeskripsikan data. Mendeskripsikan data artinya menyajikan data dalam bentuk yang mudah dipahami. Misalnya dalam bentuk tabel, grafik dengan angka-angka yang sudah ditentukan rata-ratanya. Data yang sudah dianalisis kemudian diimpretasikan menjadi suatu kesimpulan dalam bentuk pernyataan. Data yang diinterpretasikan harus yang membentuk pola atau beberapa kecenderungan.

Hipotesis

Hipotesis biasanya dibuat pada suatu perencanaan penelitian yang merupakan pekerjaan tentang pengaruh yang akan terjadi dari variable manipulasi terdapat variable respon. Menurut (Nur, 1996) hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan bukan pertanyaan, pertanyaan biasanya digunakan dalam merusumkan masalah yang akan diteliti.

Hipotesis dapat dirumuskan secara induktif dan deduktif. Perumusan induktif berdasarkan data pengamatan sedangkan perumusan deduktif berdasarkan teori. Hipotesis juga dapat dikatakan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah.

Definisi Variabel Secara Operasional

Mendefinisikan secara operasional suatu variable berarti menetapkan bagaimana suatu variable itu diukur. Devinisi operasional suatu variable adalah definisi yang menguraikan bagaimana mengukur suatu variable. Definisi ini harus menyatakan tindakan apa yang akan dilakukan dan pengamatan apa yang dicatat dari suatu eksperimen.

Ketrampilan ini merupakan ketrampilan proses yang paling sulit untuk dilatihkan karena itu harus sering di ulang-ulang.

Contoh : siswa melakukan percobaan pengaruh suhu terhadap kelarutan gula.

Rumusan hipotesis : makin tinggi suhu, makin cepat kelarutan gula.

Tabel data hasil observasi

Volume air (cm3)

Suhu Air (oC)

Waktu (detik)

100

25

30

100

50

20

100

80

10

 Identifikasi Variabel :

Variabel manipulasi : Suhu

Variabel respon: Waktu

Variabel control: Volum air, thermometer, jenis air, gelas ukur, stop watch, dll

Definisi Operasional Variabel :

Definisi operasional manipulasi: suhu air diukur menggunakan thermometer

Definisi operasional respon: waktu diukur menggunakan stop watch.

Definisi operasional control: Alat-alat ukur yang digunakan harus sama untuk semua percobaan. Air yang dicoba harus sama berasal dari satu tempat.

Eksperimen

Eksperimen dapat didefinisikan sebagai kegiatan terinci yang direncanakan untuk menghasilkan data untuk menjawab suatu masalah atau menguji suatu hipotesis. Suatu eksperimen akan berhasil jika variable yang dimanipulasi dan jenis respon yang diharapkan dinyatakan secara jelas dalam suatu hipotesis, juga penentuan kondisi-kondisi yang akan dikontrol sudat tepat. Untuk keberhasilan eksperimen ini maka setiap eksperimen harus dirancang terlebih dahulu kemudian diuji coba.

Melatihkan merencanakan eksperimen tidak harus dalam bentuk penelitian yang rumit, tetapi cukup dilatihkan dengan menguji hipotesis-hipotesis yang berhubungan dengan konsep-konsep di dalam kurikulum.

Sumber :

Nasution Noehi, dkk (2007). Pendidikan IPA di SD. Jakarta. Universitas Terbuka

Poppy Kamalia Devi. (2010).Ketrampilan Proses dalam Pembelajaran IPA. Jakarta. PPPPTK IPA

  1. 29 Desember 2012 pukul 6:31 am

    pendapat……..model pembelajaran dan sintaknya menjadi jurus jitu peningkatan mutu out put siswa kita jika guru mampu menerapkan dan mengembagkannya.

    Suka

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: