Beranda > Uncategorized > AWAS TERJEREMBAB ILUSI KENAIKAN GAJI

AWAS TERJEREMBAB ILUSI KENAIKAN GAJI


AWAS TERJEREMBAB ILUSI KENAIKAN GAJI

Oleh : Moh. Zamzuri

Sambil duduk-duduk santai menikmati hangatnya secangkir kopi dan singkong bakar buatan Bu de tak terasa ngobrol “ngalor-ngidul” seputar masa mudanya Sang Pahlawan tanpa tanda jasa. Pak De sambil bercanda mengisahkan masa-masa dulu yang penuh romantika. Maklum beliau seorang pensiunan Guru yang karismatik. Beliau berujar pernah ditugaskan di daerah pegunungan yang jauh dari keramaian, bahkan untuk menuju tempat kerjanya beliau harus berjalan kaki naik gunung turun gunung. Dalam ngobrol itu tiba-tiba Pak De bertanya gajimu sekarang banyak ya? Berjuta-juta. Dengan malu-malu aku menjawabnya ya begitulah Pak De, ya disyukuri saja. “ Gajiku dulu waktu masih dinas pertama sekitar 300an ribu rupiah, ya sedikit jika dibanding dengan Guru-guru sekarang ini, tapi harga emas waktu itu 1 gram baru 15an ribu, jadi kalau dibelikan emas dapat 20 gram” cerita Pak De. “Coba bandingkan gajimu sekarang 3 jutaan rupiah, harga emas berapa sekarang sudah 300 ribu lebih, kira-kira hanya dapat 10 gram an emas” gurauan Pak De.

Esoknya ketika membaca artikel yang ditulis Herry Gunawan yang berjudul Ilusi Naik Gaji yang diterbitkan Newsroom, tiba-tiba ada yang menggelitik tangan saya dan ingin juga berbagi kepada rekan-rekan PNS khususnya rekan Guru seantero Indonesia.

Sebagaimana diberitakan di berbagai media bahwa pemerintah telah mengumumkan kenaikan gaji PNS dan Anggota TNI-Polri rata-rata 10% dari gaji pokok terhitung sejak 01 Januari 2012. Berkah seperti ini, pada umumnya dialami oleh rekan-rekan Guru yang berstatus PNS.

Ketika mengalami kenaikan gaji atau kesempatan memegang dana lebih banyak dari biasa, kita sering merasa pendapatan naik dan kesejahteraan pun seolah meningkat. Namun, pernahkah terlintas pertanyaan “Apakah benar nilai uang yang kita miliki lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya?”

Herry Gunawan membuat perumpamaan sederhana. Misalnya dengan gaji tahun lalu yang Rp 2,5 juta per bulan, kita bisa membeli 20 kemeja dengan harga setiap potongnya sebesar Rp 100 ribu dan menabungkan Rp 500 ribu sisanya. Asumsikan kenaikan gaji 10 persen, menjadi Rp 2,75 juta. Mungkinkah masih bernilai sama?

Lazimnya, kenaikan harga barang selalu lebih tinggi dari kenaikan gaji secara umum. Gaji hanya mengikuti inflasi. Sementara harga barang dipengaruhi oleh inflasi dan ekspektasi permintaan tentu saja selain ongkos produksi.

Produsen akan memikirkan bahwa ekspektasi permintaan barang seperti kemeja akan tinggi, mengingat pendapatan masyarakat yang secara nominal naik. Karena itu, mereka biasanya akan menaikkan harga. Bisa juga ditambah dengan ekspektasi kenaikan ongkos produksi akibat kenaikan komponennya, semisal rencana kenaikan harga bensin dan tarif dasar listrik seperti yang terjadi sekarang.

Karena itu, bukan mustahil walau gaji naik, kita justru tidak lagi mampu membeli 20 kemeja seperti sebelumnya. Kejadian seperti ini sering terjadi lantaran pola kenaikan gaji yang hampir rutin terjadi setiap awal tahun.

Pengumuman kenaikan gaji PNS dan anggota TNI serta kemungkinan pertambahan ongkos produksi telah membuat produsen ataupun penjual memperkirakan harga-harga akan meningkat akibat inflasi. Akibatnya, mereka pun ikut menaikkan harga jual yang justru menyumbang terhadap laju inflasi.

Celakanya, banyak rekan guru yang kurang cermat terhadap situasi ini. Mereka cenderung beranggapan, pendapatan riilnya meningkat, sehingga dapat mengonsumsi barang dalam jumlah lebih banyak.

Alhasil di akhir-akhir bulan dampaknya baru terasa. Persediaan uang yang dimilikinya justru semakin menipis padahal gaji yang diterimanya sudah lebih besar secara nominal.

Menurut Harry tak perlu berprofesi sebagai pengamat ekonomi untuk menyadari dan bisa membedakan mana yang dimaksud upah atau gaji nominal serta mana yang disebut dengan upah atau gaji riil. Gaji nominal adalah gaji yang secara umum kita pahami karena gaji dalam bentuk nominal, misalnya rupiah yang kita terima setiap bulan dari perusahaan atau institusi tempat bekerja.

Sedangkan gaji riil, besarannya diukur oleh kemampuannya jika ditukar dengan suatu barang. Misalnya dalam ilustrasi gaji dan kemeja tadi. Dengan kenaikan gaji 10 persen menjadi Rp 2,75 juta, sementara harga pakaian naik menjadi Rp 125 ribu, maka kita hanya mampu membeli 20 potong pakaian namun sisa uang yang bisa ditabung jadi Rp 250 ribu.

Agar lebih nyata, silakan ganti permisalan kemeja ini dengan kebutuhan pokok sehari-hari. Manfaat dari mengetahui perbedaan gaji nominal dan riil ini agar lebih bijak menyikapi kenaikan pendapatan rutin. Sehingga, arus kas pribadi atau rumah tangga tetap sehat dan berjalan baik.

Yang paling penting, jangan sampai kenaikan besar gaji justru menyebabkan arus kas pribadi ataupun keluarga Anda menjadi negatif alias besar pasak dari pada tiang.

Mari sama-sama hitung gaji riil, bukan nominal. Apakah terjadi peningkatan atau malah terjadi penurunan? Jangan sampai rugi bandar di akhir bulan nanti.

Tak ingin membandingkan kisah Pak De dengan artikel Bang Harry ataupun sekadar menyimpulkan tentang kesejahteraan yang masih ilusi.

Sumber : http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/ilusi-naik-gaji.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: