Opini


KURIKULUM PENDIDIKAN YANG EKOLOGIS BANGKITKAN CINTA BOJONEGORO

Kerusakan lingkungan akibat banjir sudah melanda wilayah Bojonegoro. Disetiap lorong dipenuhi air hujan akibat tidak mampunya sungai, resapan air menampung luberan sungai bengawan solo dan air hujan yang mengguyur selama musim hujan.

Akhir tahun 2007 hingga awal tahun 2008, Bojonegoro menjadi korban luberan air hujan tersebut. Banjir yang terjadi ditahun itu merupakan banjir terbesar dan terparah selama sepuluh tahun terakhir. Hal itu menimbulkan kerugian material dan immaterial yang tak terhitung jumlahnya.

Secara material, ratusan rumah beserta isinya terendam serta hanyut oleh derasnya luberan air hujan tersebut. Bangunan perkantoran, sekolah, dan bangunan fasilitas umum lainnya juga terendam banjir. Bila dihitung  secara estimasi rupiah, jumlahnya melebihi miliaran rupiah.

Itu belum lagi berbicara soal nasib korban bencana banjir, secara immaterial, rasa sedih, kalut, isak tangis, kedinginan dan seterusnya menghantam jiwa psikologis para korban banjir. Anak-anak yang seharusnya menikmati hari-hari mereka bermain dengan ceria justru menjadi hari-hari yang diliputi rasa ketakutan, kedinginan bahkan kelaparan di tenda-tenda pengungsian.

Dalam kebijakan pemerintah daerah, kebijakan politik untuk cinta lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, membangun rumah atau bangunan-bangunan  lainnya menurut tata ruang kota dan wilayah sering dilanggar. Menurut ilmu planologi, pembangunan rumah dan bangunan selama ini hanya “asal buat dan asal selesai”. Tidak ada perencanaan matang apabila ingin mendirikan bangunan-bangunan didaerah yang rawan banjir, termasuk segala dampak buruknya.

Masyarakat dalam konteks demikian juga sama-sama tidak serius untuk peduli pada lingkungan. Sampah berserakan dimana-mana, khususnya bagi mereka yang tinggal dekat sungai, baik itu aliran sungai kecil maupun aliran sungai yang besar. Atau mereka yang hidup diperkotaan dengan resapan air yang sangat sedikit. Itu sebuah ironi.

Menuntaskan persoalan tersebut sangatlah susah dan rumit. Pemerintah tidak berkomitmen tinggi dan berkemauan untuk hidup bersih dari sampah. Masyarakat juga begitu. Pemerintah satu sisi dan masyarakat disisi yang lain tidak mempunyai kesadaran yang tinggi agar lingkungannya bersih dan bebas dari sampah.

Mentalitas hidup bersih sudah hilang seiring matinya kepedulian dan kecintaan mereka kepada lingkungan. Yang pasti untuk mengakhiri persoalan yang demikian butuh proses yang panjang dan lama.

Sangat mustahil bila memberikan pendidikan cinta lingkungan pada masyarakat dan pemerintah dengan kampanye “Mari cinta lingkungan dan hidup bersih”. Sebab mereka bagian dari generasi lama yang tidak bisa diberikan pendidikan kesadaran sama sekali.

Bila dikritik, diberi masukan maupun saran, pasti marah. Karena itu perlu satu terobosan baru dengan cara memotong generasi.

Potong generasi yang dimaksud adalah kita mengajarkan hidup bersih kepada anak didik, mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga PT. Sebab, mereka  masih bisa dididik. Pola pikirnya lebih terbuka dan mau menerima perubahan dari luar. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Karena itu, mereka perlu mendapatkan pembinaan dan pendidikan cinta lingkungan. Kurikulum pendidikan berbasis ekologi diperlukan disetiap lembaga pendidikan.

Adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diharapkan mampu dibuat sesuai dengan kebutuhan lokalitas daerah masing-masing untuk membentuk karakter anak didik cinta lingkungan. Sebab, muatan KTSP diciptakan dan dilahirkan para pendidik di sekolah tersebut.

Disetiap materi pelajaran ataupun kuliah yang diajarkan, nilai-nilai kecintaan dan kepedulian kepada lingkungan harus diperkuat sedemikian rupa, baik teoritis maupun praksis.

Pada beberapa materi pelajaran maupun kuliah yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan lingkungan, perlu diberi waktu pembelajaran-pengajaran yang cukup, selama itu tidak mengurangi konsentrasi muatan jurusan yang diinginkan disetiap lembaga pendidikan terkait.

Yang jelas,  bila anak didik mulai TK hingga PT diberi materi ajar cinta lingkungan, niscaya generasi masa depan akan mempunyai kecintaan yang tinggi terhadap lingkungan. Mereka akan melakukan kegiatan-kegiatan yang ada hubungannya dengan pemeliharaan lingkungan. Dan setiap tindakannya pasti akan memperhatikan dampaknya bagi lingkungan.

Dengan demikian, bencana-bencana banjir dengan segala anak pinaknya bisa teratasi. Sebab mereka sudah berkesadaran tinggi terhadap pentingnya menjaga lingkungan sehat dan bersih.

Apabila mereka kemudian para pemuda Bojonegoro menjadi birokrat, politisi dan seterusnya, pikirannya akan berpikiran lingkungan. Kebijakan-kebijakan politiknya terkait dengan lingkungan akan berpihak pada lingkungan bersih, asri, dan indah sesuai tata ruang kota dan wilayahnya.  Bila menjadi masyarakat, merekapun akan menyayangi lingkungan sehat dan bersih. Dengan begitu Bojonegoro akan steril dari bencana banjir. Bojonegoro akan menjadi kota bersih, sehat dan indah, sehingga membuat orang nyaman tinggal di Bojonegoro.

Moh. Zamzuri diolah dari berbagai sumber

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: