Beranda > Jendela Ilmu > Tidak Lagi Memaksakan

Tidak Lagi Memaksakan


TIDAK LAGI MEMAKSAKAN

oleh: moh zamzuri

 

Lulus dengan nilai yang tinggi adalah impian,

Lulus dengan kemampuan yang luar  biasa adalah kebanggaan,

Dua kalimat di atas tentu sebuah pengharapan yang tidak mustahil diwujudkan. Itulah tugas kita tugas para guru, tugas para pendidik, tugas lembaga pendidikan. Berbagai metode yang sering diterapkan di sekolah-sekolah atau oleh para guru adalah dengan memperbanyak latihan soal atau try out UN berkali-kali untuk mendapatkan nilai siswa-siswinya maksimal. Sehingga tak jarang para guru atau lembaga pendidikan untuk mengambil keputusan memilih metode drill yang seakan-akan “memaksakan” kemapuan siswa terhadap materi tertentu. Kadang bukan hasil yang didapat tetapi siswa yang tertekan, stress, bahkan “ada yang gantung diri” maaf yang terakhir ini mungkin saja kebetulan terjadi dalam waktu yang bersamaan, semoga yang terakhir ini hanya salah persepsi pada kejadian yang bersamaan. Bagaimanapun kita tidak boleh “memaksakan” atau pun menekan siswa supaya mampu menguasai materi tertentu. Untuk itu penulis mengajak pembaca untuk mencermati bagaimanakah metode drill itu?

 

METODE DRILL (LATIHAN)

Drill merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap apa yang telah dipelajari siswa sehingga memperoleh suatu keterampilan tertentu. Kata latihan mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu diulang-ulang, akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi belajar yang pertama dengan situasi belajar yang realistis, ia akan berusaha melatih keterampilannya. Bila situasi belajar itu diubah-ubah kondisinya sehingga menuntut respons yang berubah, maka keterampilan akan lebih disempurnakan.

Ada keterampilan yang dapat disempurnakan dalam jangka waktu yang pendek dan ada yang membutuhkan waktu cukup lama. Perlu diperhatikan latihan itu tidak diberikan begitu saja kepada siswa tanpa pengertian, jadi latihan itu didahului dengan pengertian dasar.

Drill wajar digunakan untuk :

Kecakapan motoris, misalnya : menggunakan alat-alat (musik, olahraga, menari, pertukangan dan sebagainya).

Kecakapan mental, misalnya: Menghafal, menjumlah, menggalikan, membagi dan sebagainya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

Tujuan harus dijelaskan kepada siswa sehingga selesai latihan mereka diharapkan dapat mengerjakan dengan tepat sesuai apa yang diharapkan.

Tentukan dengan jelas kebiasaan yang dilatihkan sehingga siswa mengetahui apa yang harus dikerjakan.

Lama latihan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa.

Selingilah latihan agar tidak membosankan.

Perhatikan kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan siswa untuk perbaikan secara klasikal sedangkan kesalahan perorangan dibetulkan secara perorangan pula.

 

Kelebihan dan kelemahan

Kelebihan :

Pengertian siswa lebih luas melalui latihan berulang-ulang.

Siswa siap menggunakan keterampilannya karena sudah dibiasakan.

Kelemahan :

Siswa cenderung belajar secara mekanis.

Dapat rnenyebabkan kebosanan.

Mematikan kreasi siswa.

Menimbulkan verbalisme (tahu kata-kata tetapi tak tahu arti).

 

Yang sudah terbiasa menggunakan metode di atas bukan sebuah keputusan yang salah, karena metode apapun pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun mungkin ada hal lain yang mungkin belum kita lakukan apakah ada cara lain yang lebih membangun dan memberdayakan kemampuan siswa. Dengan kata lain ada hal-hal yang luput dari para guru atau lembaga pendidikan untuk mempersiapkan siswa menjadi siswa yang benar-benar siap menghadapi Ujian Nasional.

 

Pemerintah melalui permendiknas no. 2 tahun 2011 yang terdapat pada bab IV tentang kelulusan peserta didik yang tertera pada pasal 20, 21, dan 22 :

Pasal 20

Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah:

a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;

b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran:

1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;

2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;

3) kelompok mata pelajaran estetika, dan

4) kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan;

c. lulus US/M untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan

d. lulus UN.

Pasal 21

(1) Peserta didik dinyatakan  lulus US/M pada SD, MI, dan SDLB   apabila peserta didik telah memenuhi kriteria kelulusan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan perolehan nilai  S/M.

(2) Nilai S/M diperoleh dari  rata-rata gabungan nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester  7,  8,  9,  10,  dan  11  dengan  pembobotan  60%  (enam  puluh  persen) untuk nilai US/M  dan 40% (empat puluh persen) untuk nilai rata-rata rapor.

Pasal 22

(1) Kelulusan peserta didik dari UN ditentukan berdasarkan NA.

(2) NA  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)    diperoleh  dari    nilai  rata-rata gabungan  nilai  S/M  dari  mata  pelajaran  yang  diujinasionalkan  dan  nilai  UN dengan  formula  60%  (enam  puluh  persen)  nilai  UN  dan  40%  (empat  puluh persen) nilai S/M.

(3) Kelulusan  peserta  didik  dari  satuan  pendidikan  ditetapkan  oleh  setiap  satuan pendidikan  melalui  rapat  dewan  guru  berdasarkan  kelulusan  sebagaimana dimaksud pada  Pasal 20.

 

Pasal-pasal tersebut di atas memberikan angin perubahan dalam ketentuan kelulusan siswa. Menurut pendapat penulis ada kemajuan menuju arah yang lebih baik dibandingkan sebelumnya, “dalam menentukan kelulusan” model ini lebih baik, lebih terarah, lebih “manusiawi” lebih menghargai proses belajar siswa. Jadi model seperti ini tidak menghakimi siswa yang telah bersusah payah belajar bertahun-tahun dengan hanya dinilai dalam 3 hari.

Kebijakan yang “bijaksanya” mestinya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pembelajaran di kelas yang diambil oleh para guru atau lembaga pendidikan dalam meningkatkan mutu dan kualitas siswa (out put) yang tinggi.

Hal yang mungkin belum dilaksanakan oleh para guru atau lembaga pendidikan adalah :

1)    Melakukan evaluasi kebijakan yang diterapkan di kelas maupun sekolah;

2)    Mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan arah kebijakan;

 

Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan tahun-tahun sebelumnya dalam melaksanakan kebijakan yang di laksanakan oleh guru dan lembaga pendidikan. “sudah sesuai”, “layak dilanjutkan”, atau “ perlu ada perbaikan” terhadap kebijakan tersebut.

Mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan arah kebijakan (visi dan misi) sekolah. Hal ini teramat luas jika penulis uraikan satu persatu. Penulis hanya membahas “satu sisi” dalam merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasi pembelajaran sebagaimana tugas pokok guru. Apakah yang dilakukan sudah terencana, terstruktur, terarah sehingga layak berharap hasil yang maksimal. Kalau sudah, apakah dalam menyusun indikator sudah operasional, sudah sesuai dengan kebutuhan siswa. Kalau sudah, sebelum menyusun indikator, apakah telah mengkaji Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Standar Kompetensi Lulusan. Jika ada yang belum mungkin yang terakhir mengkaji Standar Kompetensi Lulusan. Mungkin terakhir ini sering dilupakan para guru atau lembaga pendidikan “seakan-akan” mengkaji Standar Kompetensi Lulusan adalah tugas Guru Kelas terakhir yang “mengurusi” siswa yang akan mengikuti Ujian. Tentu hal tersebut teramat berat jika hanya dibebankan kepada salah satu atau bebarapa guru yang telah dipersiapkan menangani siswa kelas terakhir.

Lalu bagaimana langkah para guru dan lembaga pendidikan?

Hal yang dapat dilakukan adalah :

1.    Mengkaji SKL yang di dalamya terdapat kisi-kisi Ujian Nasional;

2.    Mengadopsi indikator yang terdapat dalam kisi-kisi Ujian Nasional dalam Silabus Pembelajaran ataupun Indikator soal sesuai dengan materi tiap mata pelajaran dan kelas masing-masing (4,5,dan 6);

3.    Melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan indikator-indikator yang telah dipersiapkan.

Dengan langkah tersebut guru tidak meninggalkan proses pembelajaran yang diperlukan siswa dan secara tidak langsung telah mempersiapkan siswa sejak dini dalam menghadapi Ujian Nasional.

Dengan demikian guru dan lembaga pendidikan tidak lagi “memaksakan” kemampuan secara instan kepada siswa-siswinya dan tetap memperoleh hasil yang maksimal.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat dan memberi inspirasi untuk kita semua. Kritik dan saran adalah obat mujarab yang dapat membangkitkan kemampuan untuk lebih baik lagi.

 

Sukses untuk kita semua

Salam penulis,

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_b12.html

http://kemendiknas.go.id

 

 

 

Kategori:Jendela Ilmu
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: